√ Teori Konspirasi Beserta Sejarah, Dampak (TERLENGKAP)

Teori Konspirasi – Ada banyak sekali teori konspirasi yang telah beredar di sekitar kita. Mulai dari penyakit AIDS dan Ebola adalah temuan oleh pihak dinas rahasia Amerika Serikat CIA, hingga Bumi itu datar dan manusia tak pernah mendarat di Bulan.

Beredar juga teori bahwa vaksinasi adalah sebuah program yang ditunjukan untuk membuat kaum perempuan di negara-negara tertentu mandul atau vaksin yang akan membuat anak-anak menjadi cacat ketika dilahirkan.

Teori-teori ini tak memuat kebenaran adanya namun konsekuensinya bisa sangat fatal ketika banyak orang mempercayai tentang teori ini.

Teori konspirasi soal vaksin, misalnya, dengan cara membuat banyak orang enggan untuk menerima vaksinasi dan akibatnya akan muncul wabah campak di Amerika Serikat, Meksiko, Prancis, Madagaskar, dan sejumlah negara yang lainnya.

Kenapa Percaya?

teori konspirasi

pixabay.com

“Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa kaitan antara stres, keadaan mudah dipengaruhi dan teori konspirasi,” ujar dari Dr Mike Wood, psikolog yang berasal dari Universitas Winchester, di Inggris.

“Ketika seseorang tak lagi bisa menguasai diri dengan sepenuhnya, ketika mengalami stres maka teori konspirasi ini akan menjadi masuk akal,” kata Wood.

Orang-orang yang sedang mengalami trauma secara kolektif juga cenderung lebih mudah percaya dengan teori konspirasi ini, kata Dr Myrto Pantazi yang berasal dari lulusan Institut Internet Universitas Oxford, Inggris.

Dengan menggandeng ilmuwan-ilmuwan yang lainnya, Pantazi meneliti bahwa teori konspirasi yang muncul setelah jatuhnya pesawat yang menyebabkan presiden Polandia menjadi tewas bersama 95 politisi dan sejumlah perwira tinggi militer lainnya, pada April 2010.

Hasil kajian yang juga memperlihatkan bahwa teori konspirasi mempertajam perpecahan di masyarakat dan malah meningkatkan peluang konflik, karena bersamaan dengan beredarnya teori konspirasi ini, maka muncul pula pertikaian antara orang yang percaya dan yang skeptis dengan teori konspirasi tersebut.

Pertikaian antara dua kubu tersebut sangat sering kali mengganggu hubungan sosial yang berada di masyarakat.

Para pakar juga memperingatkan bahwa apa yang mereka katakan sebagai kekuatan dari paparan yang terus berulang, yang biasa disebut dengan “ilusi kebenaran”.

Yang juga menjadi kekhawatiran para ahli yaitu amplifikasi teori konspirasi ini melalui media sosial yang bisa menjakau sangat banyak masyarakat.

“Makin sering Anda mendengarnya, maka makin sering pula Anda terpapar, makin besar pula kemungkinan Anda untuk mempercayainya,” kata Jeff Hancock, guru besar yang berada di bidang ilmu komunikasi di Universitas Stanford, Amerika Serikat.

Baca Juga :

Dampak Teori Konspirasi

teori konspirasi

jelajahkepri.com

“Teori konspirasi ini bisa sangat berbahaya bagi masyarakat,” kata Pantazi. “Jelas, bahwa orang-orang yang sudah percaya bahwa vaksin akan menyebabkan autisme membuat anak-anak mereka menjadi rentan akan berbagai penyakit.”

Bagaimana teori konspirasi ini dapat berkembang dan menjadi populer?

  • Menelisik jejak pada sejarah Freemason di Skotlandia
  • Konspirasi dahsyat Illuminati ternyata mampu melibatkan wartawan ‘Playboy’
  • Berkunjung ke tempat lahir Iluminati, kelompok yang menentang pengaruh agama

Jawabannya yaitu karena teori ini telah mengisi kekosongan hal-hal yang belum banyak diketahui atau yang tak terjelaskan.

Yang membuatnya sangat berbeda dari sekedar teori alternatif adalah adanya “rencana jahat yang sengaja direncanakan oleh orang-orang tertentu yang mempunyai kekuasaan”, kata Dr Jovan Byford, dosen seniordi bidang ilmu psikologi dari Universitas Terbuka di London.

Agar tidak menjadi korban, maka orang perlu untuk mengetahui “otonomi” teori konspirasi.

Setiap teori konspirasi ini pasti memiliki tiga unsur, sebagai berikut:

  1. konspirator
  2. Rencana
  3. Sarana manipulasi massal

Konspirator ini bisa berbentuk organisasi nyata yang mempunyai anggota, misalnya Illuminati, Freemasons, dan kelompok Bilderberg, berkata Byford.

Kadang, konspirator ini bukan saja berupa organisasi atau kelompok nyata saja, misalnya perusahaan farmasi besar, kompleks industri militer, elite global dan lain sebagainya.

Untuk rencana, kata Byford, sering kali dapat melibatkan tujuan mendominasi dunia.

“Keyakinan bahwa dunia ini bisa diatur adalah pendorong utama bagi para orang-orang yang percaya dengan teori konspirasi ini, terutama ketika tak ditemukan lagi penjelasan yang dianggap masuk akal,” jelas Byford.

Sarana ini dapat memanipulasi bisa berupa sumber-sumber nyata, seperti sains, pemerintah atau konglomerat media. Tapi kadang juga dapat memakai sumber yang sulit dipahami oleh akal manusia, misalnya paranormal atau bisa juga seperti ilmu hitam.

Sekian yang bisa Elnuha sampaikan mengenai teori konspirasi ini, semoga dapat bermanfaat buat sobat semua.

Terima kasih.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply