√ Teori Asam Basa Beserta Pengertian, Sifat, Contoh Soal (Lengkap)

Teori Asam Basa – Sebelum kita membahas secara lebih jauh tentang Teori Asam Basa ini, maka lebih baiknya jika kalian mengerti terlebih dahulu tentang apa itu Pengertian Asam Basa itu sendiri karena Asam Basa itu merupakan Gabungan dari Dua Kata yaitu Asam dan juga Basa yang mempunyai artian yang berbeda.

Adapun untuk pengertian asam ialah suatu zat (Senyawa) yg menyebabkan rasa masam dan pengertian basa sendiri adalah zat atau senyawa yang bisa beraksi dengan asam yang dapat menghasilkan senyawa yang biasa kita sebut dengan garam.

Secara umum zat-zat asam maupun basa ini bersifat korosif dan juga beracun khususnya yang berada di dalam bentuk larutan dengan kadar yang tinggi, sehingga sangat berbahaya jika diuji sifatnya dengan metode merasakannya.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi, pembedaan asam dan basa pun sudah dapat dilakukan dengan menggunakan indikator seperti kertas lakmus dan indikator universal ataupun instrumen pH meter.

Larutan asam akan memerahkan kertas lakmus biru tersebut, sedangkan larutan basa akan membirukan kertas lakmus yang berwarna merah. Pada pengujian zat dengan pH meter ini, maka larutan asam akan menunjukkan pH lebih kecil dari 7, sedangkan larutan basa juga akan menunjukkan pH lebih besar dari 7. Larutant dengan pH sama dengan 7 disebut netral.

Namun demikian, apakah yang menentukan suatu senyawa yang bersifat asam atau basa? Definisi asam dan basa pun akhirnya sudah menjadi rumusan masalah bagi para ahli selama ratusan tahun yang lalu.

Jenis Teori Asam Basa

teori asam basa

tirtamandiri.com

Dari berbagai teori yang sudah di definisi asam basa yang pernah diajukan, maka terdapat tiga teori yang sangat bermakna, antara lain teori asam basa Arrhenius, teori asam basa Brønsted–Lowry, dan juga teori asam basa Lewis.

Teori Asam Basa Arrhenius

teori asam basa

labnusantara.co.id

Teori ini yang pertama kalinya dikemukakan pada tahun 1884 oleh Svante August Arrhenius. Menurut Arrhenius, definisi dari asam dan basa, yaitu, sebagai berikut:

  • Asam adalah sebuah senyawa yang jika dilarutkan di dalam air maka akan melepaskan ion H+.
  • Basa adalah senyawa yang jika dilarutkan di dalam air maka akan melepaskan ion OH.

Gas asam klorida (HCl) yang sangat larut di dalam air tergolong kepada asam Arrhenius, sebagaimana HCl yang dapat terurai menjadi ion H+dan Cl apabila berada di dalam air.

Berbeda halnya dengan metana (CH4) yang bukan asam Arrhenius karena tidak dapat menghasilkan ion H+ jika di dalam air meskipun memiliki atom H.

Natrium hidroksida (NaOH) juga sudah termasuk basa Arrhenius, sebagaimana NaOH yang merupakan senyawa ionik yang terdisosiasi menjadi ion Na+ dan OH ketika dilarutkan di dalam air. Konsep asam dan basa Arrhenius ini terbatas pada kondisi air sebagai pelarut.

Baca Juga : Teori Behavioristik

Teori Asam Basa Bronsted–Lowry

teori asam basa

blog.klikmro.com

Pada tahun 1923, seorang ilmuwan yang bernama Johannes N. Brønsted dan Thomas M. Lowry secara terpisah mengajukan definisi asam dan basa yang lebih luas lagi.

Konsep yang diajukan tersebut didasarkan pada fakta bahwa reaksi asam dan basa melibatkan transfer proton (ion H+) dari satu zat ke zat lainnya.

Proses transfer proton inilah yang selalu melibatkan asam sebagai pemberi/donor proton dan basa sebagai penerima/akseptor proton. Jadi, menurut definisi asam basa Brønsted–Lowry, yaittu, sebagai barikut:

  • Asam adalah donor proton.
  • Aasa adalah akseptor proton.

Jika ditinjau dengan teori Brønsted–Lowry ini, maka akan terdapat pada reaksi ionisasi HCl ketika dilarutkan dalam air, HCl berperan sebagai asam dan H2O sebagai basa.

HCl(aq) + H2O(l) → Cl(aq) + H3O+(aq)

HCl maka akan berubah menjadi ion Cl setelah memberikan proton (H+) kepada H2O. H2O menerima proton dengan menggunakan sepasang elektron bebas pada atom O untuk berikatan dengan H+ sehingga terbentuk ion hidronium (H3O+).

Sedangkan pada reaksi ionisasi NH3 maka ketika dilarutkan di dalam air, NH3 berperan sebagai basa dan H2O sebagai asam.

NH3(aq) + H2O(l) ⇌ NH4+(aq) + OH(aq)

NH3 dapat menerima proton (H+) dari H2O dengan menggunakan sepasang elektron bebas pada atom N yang bertujuan untuk berikatan dengan H+ sehingga terbentuklah ion ammonium (NH4+). H2O yang berubah menjadi ion OH setelah memberikan proton (H+) kepada NH3.

Dari kedua contoh tersebut maka sudah terlihat bahwa (1) asam Brønsted–Lowry harus mempunyai atom hidrogen yang dapat terlepas sebagai ion H+; dan (2) basa Brønsted–Lowry juga harus mempunyai pasangan elektron bebas yang dapat berikatan dengan ion H+.

Kelebihan dari definisi oleh Brønsted–Lowry ini dibandinglan dengan definisi oleh Arrhenius adalah dapat menjelaskan bahwa reaksi-reaksi asam–basa dalam fase gas, padat, cair, larutan dengan pelarut selain air, ataupun campuran heterogen. Sebagai contoh, reaksi antara gas NH3 (basa) dan juga gas HCl (asam) maka akan membentuk asap NH4Cl.

NH3(g) + HCl(g) → NH4Cl(s)

Beberapa zat yang juga dapat bertindak sebagai asam, namun juga dapat sebagai basa pada reaksi yang lain, misalnya seperti H2O, HCO3, dan H2PO4. Zat demikianlah yang disebut sebagai amfiprotik.

Suatu zat amfiprotik (misalnya H2O) maka akan bertindak sebagai asam bila direaksikan dengan zat yang lebih basa darinya (misalnya NH3) dan bertindak sebagai basa bila direaksikan dengan zat yang lebih asam darinya (misalnya HCl).

Baca Juga : Teori Perilaku Konsumen

Teori Asam Basa Lewis

teori asam basa

elnuha.net

Pada tahun 1923, G. N. Lewis juga telah mengemukakan teori asam basa yang lebih luas lagi dibanding kedua teori sebelumnya dengan cara menekankan pada pasangan elektron yang berkaitan dengan struktur dan ikatan. Menurut definisi asam basa Lewis,

  • Asam adalah akseptor pasangan dari elektron.
  • Basa adalah donor pasangan dari elektron.

Berdasarkan definisi Lewis tersebut, maka disini asam yang berperan sebagai spesi penerima pasangan elektron tidak hanya H+. Senyawa yang memiliki orbital kosong pada kulit valensi seperti BF3 juga dapat berperan sebagai asam.

Sebagai contoh saja seperti, reaksi antara BF3 dan NH3 yang juga merupakan reaksi asam–basa, di mana BF3 sebagai asam Lewis dan NH3 sebagai basa Lewis. NH3 memberikan pasangan elektron kepada BF3 sehingga dapat membentuk ikatan kovalen koordinasi diantara keduanya.

Kelebihan dari definisi asam basa Lewis adalah dapat menjelaskan tentang reaksi-reaksi asam–basa lain dalam fase padat, gas, dan medium pelarut selain air yang tidak melibatkan transfer kepada proton.

Misalnya, di dalam reaksi-reaksi antara oksida asam (misalnya CO2 dan SO2) dengan oksida basa (misalnya MgO dan CaO), reaksi-reaksi pembentukan ion kompleks seperti [Fe(CN)6]3−, [Al(H2O)6]3+, dan [Cu(NH3)4]2+, dan sebagian reaksi dalam kimia organik.

Contoh Soal dan Pembahasan

teori konstruktivisme

brillio.net

Tentukan manakah asam dan basa yang berada di dalam reaksi asam–basa berikut dengan memberikan alasan yang didasarkan pada teori asam basa Arrhenius, Brønsted–Lowry, atau Lewis:

1. HCN(aq) + H2O(l) ⇌ CN(aq) + H3O+(aq)

2. Ni2+(aq) + 4CN(aq) ⇌ [Ni(CN)4]2−(aq)

Jawaban:

1. Jika berdasarkan kepada teori asam basa Arrhenius, HCN adalah asam Arrhenius sebagaimana HCN akan melepaskan ion dari H+ jika dilarutkan di dalam air.

Berdasarkan teori Brønsted–Lowry, HCN adalah asam Brønsted–Lowry karena dapat mendonorkan proton (H+) sehingga menjadi ion CN sedangkan H2O adalah basa Brønsted–Lowry karena dapat menerima proton sehingga bisa membentuk ion H3O+.

Berdasarkan teori Lewis, H2O adalah basa Lewis karena mendonorkan pasangan elektron kepada ion H+ yang berasal dari molekul HCN dan membentuk ion H3O+ sedangkan H+ dari HCN adalah asam Lewis karena menerima pasangan elektron dari atom O pada H2O.

2. Teori Arrhenius dan juga teori Brønsted–Lowry tidak dapat menjelaskan reaksi ini.

Berdasarkan teori Lewis, CN adalah basa Lewis karena mendonorkan pasangan elektron kepada ion Ni2+ sehingga dapat terbentuklah ikatan kovalen koordinasi sedangkan Ni2+ adalah asam Lewis karena menerima pasangan elektron dari CN.

Baca Juga : Teori Humanistik

Sifat – Sifat Asam Basa dan Penjelasannya

teori asam basa

chemistry.untan.ac.id

Yang pertama adalah Sifat – Sifat Asam antara lain yang Rasanya Asam (Masam), maka akan bersifat korosif (Merusak) dan jika dilarutkan didalam air maka dapat menghasilkan Ion H+ atau Ion – Ion Hidrogen dan Ion sisa dari asam yang bermuatan Negatif, bila diuji dengan cara menggunakan Indikator Kertas Lakmus Biru maka dapat mengubah Lakmus tersebut menjadi Merah.

Jika diuji menggunakan Indikator Kertas Lakmus yang Berwarna Merah, maka Kertas Lakmus tersebut tidak akan berubah warna.

Yang Kedua adalah Sifat – Sifat Basa antara lain rasanya yang pahit dan licin, maka mersifat kaustik atau dapat merusak pada Kulit, Bila dilarutkan didalam air maka dapat menghasilkan Ion OH- atau Ion Hidroksil dan Ion logam ataupun gugus Lain yg bermuatan Negatif.

Apabila Ion OH- yang hampir seluruh-nya dilepaskan sempurna maka itu termasuk kedalam basa yang kuat ataupun bisa dikatakan mempunyai derajat keasaman yg sangat rendah dan begitu pula sebaliknya.

Jika diuji dengan cara memakai Indikator yg berupa lakmus warna merah maka dapat mengubah warna lakmus tersebut menjadi berwarna biru, sedangkan jika di uji didalam kertas lakmus yang berwarna biru maka tidak akan mengubah warna kertas lakmus tersebut.

Mungkin itu saja yang bisa Elnuha sampaikan mengenai teori asam & basa, semoga bermanfaat dan mampu menambah wawasan sobat semua.

Terima kasih.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply