√ Teori Agensi Beserta Tujuan, Manfaat dan Cara Mengatasinya (Lengkap)

Hallo sobat Elnuha, apa kabar kalian semua?. Semoga selalu sehat dan bahagia selalu yaa.

Ok, kali ini Elnuha akan kembali membahas secara lengkap dan mendetail tentang appa itu teori agensi?

Apakah sobat semua sudah mengetahui sebelumnya tentang teori yang satu ini?

Kalau belom mari simak artikel berikut ini yang sudah Elnuha sajikan buat sobat semua.

Teori agensi adalah teori yang membahas tentang hubungan kerja yang dilakukan antara pemilik perusahaan (pemegang saham) dan manajemen.

Manajemen adalah AGEN. Ditunjuk langsung oleh pemegang saham (prinsipal). Lalu mereka diberi tugas dan kewenangan untuk mengelola perusahaan tersebut. Atas nama pemegang saham.

Teori keagenan atau teori agensi ini muncul ketika pemegang saham sudah mampu mempekerjakan pihak lain. Untuk mengelola perusahaan tersebut. Teori agensi ini mampu melakukan pemisahan terhadap pemegang saham (prinsipal) dengan manajemen (agen).

Contoh teori agensi dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu: seorang pengusaha bebek yang yang tidak bisa lagi mengurus usahanya tersebut karena kesibukan yang ia alami.

maka pemilik usaha bebek ini (disebut prinsipal) kemudian menyuruh orang lain untuk mengelola usahanya tersebut. Menjaganya siang hingga malam. Orang yang ditunjuk adalah bertindak sebagai AGEN dari pemiilik usaha bebek tersebut.

Sebagai orang yang disuruh atau diamanti. Agen tersebut mempunyai kewenangan dalam mengelola usaha bebek. Agen akan mendapatkan imbalan (gaji). Dan dia juga harus bertanggung jawab kepada pemilik warnetnya. Atau bosnya yang pemilik usaha bebek tersebut.

Fungsi Teori Agensi

teori agensi

hestanto.web.id

Dalam setiap kerjasama dengan seseorang maka sudah lumrah akan ada permasalah di dalam kerjasama tersebut.

Termasuk kerjasama antara hubungan agen dan prinsipal itu. Terlebih diperusahaan yang sudah masuk skala besar. Bahkan ini selalu muncul biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk mengawasinya saja.

Teori agensi berfungsi untuk menganalisa dan menemukan solusi yang terdapat di dalam masalah yang ada di dalam hubungan keagenan antara manajemen dan pemegang saham.

Pada tingkat usaha yang masih kecil, seperti usaha contohnya seperti usaha bebek tadi, maka pemilik masih bisa mengelola usaha tersebut sendiri, kalaupun harus menyusurun “agen” itu bertujuan untuk menjaganya saja, pengawasannya juga masih mudah. Yang mengelola usaha bebek tersebut mungkin maksimal hanya 5 orang saja.

Mengawasi 5 orang tersebut masih gampang walaupun ada potensi konflik yang ada di dalamnya, kecurangan dan yang lainnya yang bisa merugikan si pemilik usaha tersebut.

Bagaimana jika skala usaha yang lebih besar lagi, masif, ada jutaan kegiatan yang akan dilakukan dan terdiri dari banyak komponen dan sistem yang sangatlah rumit seperti perusahaan besar ?

Cara mengawasinya juga akan lebih susah. Potensi adanya masalah juga akan besar. Bahkan perlu biaya hanya untuk mengawasi agen tersebut.

Baca Juga : Teori Behavioristik

Masalah Teori Keagenan

teori agensi

hestanto.web.id

Btw, mengapa agen harus diawasi ?

Untuk jaga jaga.

Prinsipal sangatlah harus berhati hati agar tidak dirugikan. Oleh agen yang ditunjuknya sebagai pemegang usaha yang dimilikinya.

Dirugikan nanti bagaimana ?

Berikut adalah masalah dalam sistem kerjasama antara prinsipal dan agen.

Agen Bertindak Untuk Kepentingan Sendiri

teori agensi

hestanto.web.id

Pada teori keagenan ini, maka setiap pihak diasumsikan selalu bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri. Terutama: pada sistem manajemen.

Mereka mempunyai wewenang. Mereka juga yang mengatur jalannya perusahaan tersebut. Agen juga yang memegang sistem transaksinya. Pegang uangnya. Pegang hampir semuanya. Jika mereka berbuat curang: maka prinsipal akan rugi besar pada usaha tersebut.

Posisi, fungsi, kondisi dan situasi, tujuan, latar belakang dan keinginan manajemen bis berbeda dengan keinginan pemilik aslinya. Kondisi ini akan memunculkan konflik kepentingan (conflict of interest). Akhirnya: munculah masalah keagenan (agency problem)

Prinsipal bisa sangat dirugikan oleh kegiatan manajemen tersebut.

Alih alih dapat menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi, manajemen bisa melakukan hal hal yang merugikan seperti halnya:

  1. Mengangkat bawahan dengan nepotisme
  2. Tidak memecat bawahan yang tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam mengelola usaha tersebut
  3. Memalsukan laporan keuangan dll.
  4. Boros dalam pengeluaran yang tidak berdampak banyak terhadap kemajuan perusahaan tersebut. Bahkan agen bisa menambah fasilitas dan gaji mereka sendiri dengan sesuka mereka.
Makanya sangat penting adanya: kebijakan dan aktivitas manajemen perusahaan harus diawasi.

Perbedaan tujuan dan kepentingan bahkan bukan hanya melibatkan antara manajemen dengan pemegang saham  itu saja, namun juga merambat kepihak-pihak besar lainnya.

Pihak lain? lho ada lagi? siapa saja? yaa ada lagi.

Pada teori agensi setidaknya ada 3 macam konflik yang berkepentingan yang bisa terjadi pada perusahaan:

  1. Pemegang saham vs manajemen
  2. Pemegang saham vs kreditur
  3. Manajemen vs bawahan

Asimeteri Informasi

Teori perilaku konsumen

pixabay.com

Asimetri informasi adalah ketidak seimbangan yang terdapat pada informasi yang dimiliki oleh manajemen perusahaan dan pemegang saham perusahaan tersebut.

Seandainya saja pemegang saham dan manajemen tersebut memiliki informasi yang sama mengenai perusahaan, mungkin saja masalah agensi tidak akan serumit ini walaupun manajemen memiliki kepentingan yang berbeda.

Prinsipal bisa lebih mudah untuk mengontrolnya karena sudah memiliki informasi yang lengkap sebelumnya. Terutama tentang apa saja yang dilakukan oleh agen di dalam perusahaan tersebut.

Nyatanya, informasi yang seimbang antara yang diterima manajemen dan juga pemegang saham tidak pernah seimbang.

Manajemen mampu mempunyai informasi yang lebih lengkap dan rinci tentang perusahaan dibandingkan pemegang saham atau agen tersebut.

Terjadilah asimetri informasi.

Asimetri informasi ini dapat memicu masalah keagenan. Kondisi pemegang saham yang tidak mengetahui informasi selengkap mungkin maka manajemen bisa dimanfaatkan oleh manajemen yang lebih mengetahui informasi apa saja tentang perusahaan untuk memperoleh keuntungan diri sendiri.

Ada potensi agen yang juga menyembunyikan informasi. Bahkan agen juga bisa saja mempengaruhi angka angka laporan yang disajikan yang bisa menguntungkan dirinya sendiri dan merugikan pemegang saham tersebut.

Agen juga sangat bisa memberikan informasi yang tidak benar kepada prinsipal. Seolah olah perusahaan sedang berkinerja dengan baik walaupun kenyataannya tidak sedemikian rupa.

Ketidaktahuan prinsipal tentang hal ini maka sangat memberikan celah bagi manajemen untuk melakukan manajemen laba (memanipulasi laporan keuangan) untuk kepentingan dirinya sendiri.

Baca Juga :  Teori Konstruktivisme

Cara Mengatasi Masalah Keagenan

teori agensi

pixabay.com

Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi atau lebih tepatnya dapat membantu dalam meminimalkan konflik kepentingan yang terjadi antara prinsipal dan agen, seperti yang diutarakan oleh Bathala (1994) sebagai berikut:

  1. Menyamakan kepentingan manajemen yang sudah ada
  2. Pengawasan Good corporate governance (GCG)
  3. Pemberian reward dan punishment kepada agen (penghargaan dan hukuman)
  4. Utang sebagai sumber pendanaan bagi perusahaan
  5. Intervensi langsung oleh pemegang saham tersebut
  6. Meningkatkan kepemilikan saham oleh institusi

1. Good Corporate Governance (GCG)

teori agensi

pixabay.com

Secara umum, Good corporate governance (GCG) adalah sebuah peraturan yang berhubungan langsung dengan hubungan antara manajemen, pemegang saham, kreditur, karyawan, pemerintah dan pihak pihak yang berkepentingan (stakeholder) yang lain yang berkaitan dengan hak dan kewajibannya masing masing.

Prinsip dari GCG adalah akuntabilitas, transparan, responsibilitas dan juga keadilan.

Masalah utama dalam teori agensi ini adalah adanya asimetri informasi. GCG paling tidak bisa mengurangi asimetri informasi, dan bisa membatasi tindakan manipulasi laporan keuangan oleh manajemen.

Dalam menilai kinerja manajemen, maka pemegang saham selalu mengandalkan informasi dari laporan keuangan yang disajikan manajemen.

Namun, laporan keuangan yang disusun oleh manajemen apakah bisa dipertanggung jawabkan kejujurannya ?

Apakah pemegang saham akan langsung percaya begitu saja?Tentu saja tidak. Pemegang saham tidak begitu saja langsung percaya terhadap laporan keuangan yang disusun oleh agen. Karena potensi penyimpangan dan manipulasi laporan keuangan pasti akan selalu ada.

Untuk itu, manajemen keuangan mewajibkan laporan keuangan tersebut untuk diperiksa dengan memakai cara AUDIT.

Pemegang saham akan mengeluarkan dana (agency cost) menyuruh pihak yang independen (auditor) untuk memeriksa laporan keuangan yang diterbitkan oleh agen.

Pemeriksaaan audit ini bertujuan agar laporan keuangan yang dihasilkan memang benar benar berkualitas tanpa adanya penyimpangan-penyimpangan data didalamnya.

Audit bukan hanya dibutuhkan oleh pemegang saham saja, bahkan kreditor dan manajemen sendiripun memerlukan audit. Dengan audit, maka manajemen bisa memberikan legitimasi bahwa mereka telah bekerja dengan baik dan jujur dalam menjalankan kerjasama.

Kreditor juga membutuhkan laporan hasil audit untuk memastikan kemampuan perusahaan dalam melunasi piutang dan bunganya terhadap perusahaan lain.

Bisa dikatakan bahwa auditor menjadi jembatan yang menghubungkan antara kepentingan pihak yang terlibat dalam masalah keagenan.

Akuntanbilitas dan transparansi pada proses kinerja perusahaan tersebut akan meminimalkan adanya penyimpangan oleh pihak agen.

Sebagai tambahan, laporan keuangan maka manajemen yang tepat waktu akan membantu mengurangi terjadinya asimetri informasi. Semakin tidak tepat waktu, maka laporan keuangan juga bisa tidak relevan dengan kondisi terkini.

Baca Juga : Teori Darwin

2. Menyamakan Kepentingan Manajemen

teori agensi

hestanto.web.id

Salah satu cara untuk mengatasi atau paling tidak bisa meminimalkan masalah keagenan adalah dengan cara mensejajarkan atau menyamakan kepentingan antara pemegang saham dengan manajemen.

Untuk mensejajarkan kepentingan agen, maka prinsipal bisa memberikan bagian saham yang dimiliki kepada manajemen.

Pemberian bagian saham ini dapat membuat manajemen akan memberikan kinerja terbaiknya tanpa harus melakukan hal hal yang bisa merugikan pemegang saham tersebut, karena manajemennya sendiri adalah pemegang saham juga.

Kecil kemungkinan manajemen bisa merugikan dirinya sendiri.

Maka pemberian bagian pada saham ini mampu mengurangi biaya agensi. Strategi ini sangat dikenal dengan istilah bonding mechanism atau mengikat manajemen dengan pemberian modal.

Namun, apabila manajemen sudah menjual lagi saham yang telah dimiliki. Maka akan timbul pula masalah lagi tentunya.

3. Utang sebagai Sumber Pendanaan Perusahaan

teori agensi

pixabay.com

Utang bisa menjadi salah satu cara untuk meminimalkan masalah keagenan pada manajemen perusahaan. Dengan cara utang, maka ada pihak lain yang akan ikut mengawasi kinerja dari manajemen perusahaan, yaitu KREDITUR.

Jadi bukan hanya pemegang saham selaku prinsipal saja yang akan mengawasi manajemen perusahaan tersebut, namun juga pihak eksternal yaitu kreditur juga mengawasi kinerjanya.

Semakin banyak yang mengawasi kinerja manajemen nya maka peluang manajemen melakukan tindakan yang bisa merugikan akan pula semakin kecil.

Kreditur tentu saja berkepentingan untuk mengawasi manajemen agar manajemen tetap menghasilkan keuntungan yang besar untuk perusahaan agar piutangnya bisa terlunasi beserta bunganya.

Pengawasan oleh kreditur ini sangat membantu dalam meminimalkan biaya pengawasan yang harus dikeluarkan oleh prinsipal.

Namun, penggunaan utang yang berlebihan juga akan menimbulkan masalah lain dalan teori agensi ini.

Utang juga dapat memicu munculkna konflik antara pemegang saham dan kreditur. Terlebih jika ada syarat-syarat tertentu dalam perjanjian utang tersebut yang bisa bertolak belakang dengan keinginan dari pemegang saham.

Kreditur bisa membatasi penggunaan utang tersebut kepada agen. Rasio utang terhadap ekuitas maka harus sangat diperhatikan agar tidak terjadi masalah terhadap keagenan.

4. Reward and Punishment (Penghargaan dan Hukuman)

bisnismoo.com

Pemberian reward dan punishmed (penghargaan dan hukuman) kepada manajemen maka dapat menurunkan masalah agensi. Pemberian reward dan punishment ini sebelumnya ditentukan berdasarkan kinerja dari manajemen tersebut.

Manajemen berkinerja baik tentu akan mendapatkan reward dan baik pula dan begitu juga sebaliknya apabila kinerja manajemen tidak memuaskan maka bisa mendapatkan ancaman atau hukuman dari pemegang saham tersebut.

1. Reward | Penghargaan

Pemberian reward ini bisa berupa pemberian insentif, bonus atau remunerasi yang memadai bahkan pemberian bagian saham yang akan diberikan sebagai apresiasi kinerja manajemen dalam mengelolal perusahaan.

Prinsipal menilai manajemen berdasarkan kemampuan manajemen dalam menghasilkan laba yang bagus.

Semakin tinggi laba yang dihasilkan maka semakin tinggi pula dividen yang akan dibagikan oleh si pemilik saham, semakin tinggi pula insentif yang akan diterim aleh manajemen. Pemberian insentif ini bisa mampu mendorong manajemen untuk memberikan kinerja terbaiknya kepada pemegang saham tersebut.

2. Punishment | Pemberian (ancaman) Hukuman

Pemberian ancaman bahkan hukuman terhadap manajemen yang berperilaku menyimpang dan merugikan terhadap pemegang saham maka bisa dilakukan untuk mengatasi masalah keagenan.

Hukuman yang diberikan oleh pemegang saham bisa berupa seperti pemecatan, merotasi atua memindahkan tempat kerja dan posisi seseorang ketempat dan posisi yang jauh lebih buruk dibanding posisi dia sebelumnya.

Bahkan jika terbukti sudah melakukan manipulasi yang melanggar hukum, maka pemegang saham bisa menjeratnya dengan hukum pidana.

Pemberian hukuman tentu sangat ditakuti oleh manajemen. Maka ancaman hukuman membuat manajemen akan bekerja sebaik mungkin agar mendapatkan hasil yang maksimal dan terhindar dari hukuman tersebut.

Manajemen akan berpikir berkali kali lipat jika tidak ingin ketahuan melakukan kecurangan.

5. Intervensi Langsung oleh Pemegang Saham

teori agensi

pixabay.com

Internvensi langsung yang dilakukan oleh pemegang saham dapat membuat agen mengalami tekanan dan cenderung untuk main aman dalam bekerja, mereka tidak akan mau mengambil risiko dengan tidak mementingkan keuntungan diri sendiri.

6. Meningkatkan Kepemilikan Saham oleh Institusi Lain

teori agensi

pixabay.com

Peningkatan kepemilikan saham oleh pihak lain maka akan membuat biaya agensi menjadi lebih ringan dan manajemen juga akan semakin banyak yang mengawasi dalam bekerja.

Ketika ada tambahan pemegang saham dari pihak lain, maka akan otomatis pihak lain juga akan mengawasi aktivitas manajemen yang sedang bekerja. Semakin banyak pihak yang mengawasi, maka kemungkinan semakin kecil peluang manajemen untuk melakukan memanipulasi data.

Biaya Agensi (Cost Agency)

teori agensi

pixabay.com

Biaya keagenan atau cost agency adalah biaya yang dikeluarkan oleh pemegang saham yang bertujuan untuk memastikan manajemen berperilaku tidak merugikan pemegang saham tersebut dan bertindak untuk memaksimalkan kesejahteraan prinsipal.
Jurnal pada makalah teori agensi yang berjudul Journal of Finance oleh Michael J dan William M (1976) mengatakan bahwa setidaknya ada 3 jenis biaya agen yaitu, sebagai berikut:
  1. Biaya yang dikeluarkan yang bertujuan untuk mengawasi aktivitas manajerial, contohnya seperti biaya audit
  2. Biaya yang dikeluarkan itu untuk membatasi tindakan manajemen yang tidak diinginkan. Contohnya menunjuk kepada anggota dari luar untuk dewan direksi atau hierarki manajemen.
  3. Biaya peluang (opportunity cost) ketika suara pemegang saham yang dibatasi.
Pengaturan dalam pengeluaran biaya agen harus diatur agar tidak berlebihan.

Biaya keagenan tidak boleh “besar pasak daripada tiang”. maka mengeluarkan banyak biaya hanya untuk pengawasan namun dengan output yang tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan.

Sedangkan Jensen and Meckling [1976] membagi jenis biaya agensi tersebut menjadi 3 jenis yaitu, sebagai berikut:

  1. Monitoring Cost. Biaya yang muncul untuk mengawasi, mengukur, mengamati dan mengontrol perilaku agen yang sedang bekerja.
  2. Bonding Cost. Biaya yang justru ditanggung oleh manajemen (agen) untuk dapat mematuhi dan menetapkan mekanisme yang ingin menunjukkan bahwa agen tersebut telah berperilaku sesuai dengan kepentingan prinsipal.
  3. Residual Loss. Biaya yang berupa menurunnya kesejahteraan dari prinsipal sebagai akibat dari adanya perbedaan keputusan agen dan juga keputusan dari prinsipal.

Tujuan dan Manfaat Teori Agensi

teori agensi

pixabay.com

Setidaknya terdapat 2 tujuan dan manfaat dari mekanisme teori agensi ini, antara lain, sebagai berikut:
  1. Mengevaluasi sebuah hasil dari kontrak kerja sama antara prinsipal dan agen. Apakah kontrak kerja sama telah berjalan dengan apa yang telah disepakati sebelumnya atau tidak.
  2. Meningkatkan kemampuan baik itu dari pihak prinsipal ataupun agen dalam mengevaluasi kondisi dimana sebuah keputusan harus diambil dan dipikirkan secara matang.

Prinsipal dan agen adalah pelaku utama yang berda di dalam teori agensi, mereka mempunyai nilai tawar yang sama tinggi dalam peran dan kedudukan.

Teori agensi fokus terhadap kontrak yang akan dijalani harus kontrak kerjasama yang paling efisien.

Sebenarnya, masalah keagenan dan biaya biaya yang muncul pada teori keagenan ini bisa ditekan sedemikian rupa mulai dari pertama kali hendak melakukan kontrak kerjasama antara pemegang saham dan manajemen.

Kontrak kerjasama tersebut harus disusun dengan jelas dan lengkap.

Siapa yang pantas menjadi apa, siap yang juga pantas untuk menduduki jabatan fungsional apa dalam perusahaan nantinya. Berapa selayaknya imbal jasa yang diberikan beserta insentif dan punishmentnya.

Fit and proper test mungkin perlu dilakukan dengan cara menyeleksi calon agen agar terpilih calon yang memang yang benar terbaik dari beberapa pilihan yang ada.

Kontrak hubungan kerja yang optimal adalah kontrak kerja yang fairnes. Seimbang diantara keduanya. Semakin besar tugas yang diberikan oleh yang punysa saham, maka akan semakin sulit pula masalah yang akan dihadapi, maka semakin besar pula imbalan jasanya.

Teori agensi atau teori keagenan ini pada dasarnya hanya menyangkut hal hal seperti berikut ini:

  1. Kontrol pemegang saham kepada manajemen
  2. Biaya yang menyertai hubungan keagenan
  3. Meminimalkan dan menghindari biaya dari agensi

Mungkin itu saja yang bisa Elnuha sampaikan mengenai teori agensi, semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan sobat semua.

Terima kasih.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply