(SEJARAH LENGKAP) √ Perjanjian Hudaibiyah, Isi, Latar Belakang

Hallo sahabat Elnuha di pembahasan kali ini kami akan membahas secara tuntas sebuah sejarah yang sangat menarik sekali untuk sobat mengetahuinya. Sejarah apakah itu? yaa. Artikel ini akan membahas sejarah Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian yang dilakukan oleh dua belah pihak antara kaum Muslimin Madinah dengan kaum musyrikin yang di Mekah. Perjanjian ini ditandatangani di lembah Hudaibiyah tepatnya berada di, pinggiran Mekah, perjanjian ini terjadi pada tahun ke-6 setelah Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah.

Pada saat itu rombongan kaum Muslimin yang dipimpin langsung oleh Baginda Nabi Muhammad SAW hendak melakukan ibadah haji.

Namun mereka dihalang- halangi untuk masuk ke Mekah oleh kaum musyrik Quraisy yang berada di Mekah. Rasulullah pun mengajak mereka untuk bernegosiasi sampai akhirnya kedua belah pihak tersebut bisa sepakat untuk mengadakan perjanjian damai.

Latar Belakang Perjanjian Hudaibiyah

perjanjian hudaibiyah

elnuha.net

Hudaibiyah diambil dari nama sumur yang terdapat di arah barat daya kota Mekah jaraknya sekitar 22 km. Peristiwa ini pada waktu Nabi Muhammad SAW beserta rombongan kaum muslimin yang hendak melaksanakan umrah ke Mekah.

Walaupun Nabi Muhammad SAW sudah tahu sebelumnya bahwa orang-orang Quraisy akan menghalanginya saat perjalanan umroh, dan akan terjadi kontak senjata.

Dalam rombongan tersebut kaum muslimin memilik jumlah antara seribu empat ratus orang, jumlah ini menurut kesaksian lima orang sahabat Nabi yang menyaksikan langsung perjanjian itu dibuat.

Menurut riwayat dari imam Bukhari pada saat perjanjian Hudaibiyah dibuat kaum Muslimin membawa peralatan senjata dan peralatan perang untuk mengantisipasi adanya penyerangan yang akan dilakukan oleh kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad SAW.

Saat rombongan kaum muslimin telah tiba di Dzulhulaifah, mereka pun langsung melaksanakan shalat serta berihram untuk melaksanakan umrah. Saat mereka melakukan umrah rombongan juga membawa sekitar 70 ekor unta yang dijadikan sebagai hadyu.

Setelah tiba di Usfan dengan jarak sekitar 80 Km dari kota Mekah, utusan Nabi Muhammad SAW yang bernama Busra bin Sufyun membawa kabar bahwa kaum musyrikin yang tahu kedatangan rombongan Nabi Muhammad SAW. Mereka pun akan merencanakan untuk menghalagi perjalanan umrah Nabi Muhammad SAW dengan rombongan ke Mekah dengan menyiapkan pasukan yang cukup banyak.

Dengan berita tersebut maka Nabi Muhammad SAW merespon dan meminta pendapat kepada sahabat tentang keinginan untuk menyerang orang yang telah membantu dan bersekutu dengan membantu kaum Quraisy. Dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu pun memberikan pendapatnya yaitu untuk terus fokus ke tujuan utama yaitu melaksanakan ibadah umrah.

Baca Juga : Perjanjian Linggarjati

Isi Perjanjian Hudaibiyah

perjanjian hudaibiyah

elnuha.net

  1. Diberlakukannya gencatan senjata yang meluncur ke Mekah dengan Madinah selama 10 tahun.
  2. Jika ada warga Mekah yang menyeberang dari kawasan Madinah tanpa seizin dari walinya maka akan dikembalikan kembali ke Mekah.
  3. Jika ada warga Madinah yang menyeberang ke kawasan Mekah maka tidak diperbolehkan lagi untuk kembali ke Madinah.
  4. Ada warga selain dari Mekah dan Madinah, maka warga tersebut bisa bebas untuk memilih Madinah atau Mekah.
  5. Kaum Muslimin yang menempuh perjalanan ke Mekah pada waktu itu, namun harus berpulang kembali tanpa menunaikan ibadah haji. Maka untuk tahun berikutnya mereka pun hanya diperbolehkan 3 hari di mekah (tak cukup untuk berhaji).

Sekilas isi dari perjanjian tersebut sama sekali tidak ada untungnya bagi kaum Muslimin, dan hanya menguntungkan bagi kaum Quraisy Mekah. Ini bisa kita cermati satu persatu isinya :

  1. Gencatan senjata sudah tidak diperlukan lagi oleh kaum Muslimin, karena kaum musyrikin sebenarnya mereka dalam posisi lemah pada saat itu karena sebelumnya mereka kalah telak dalam Perang Ahzab/ Khandaq. Kemauan mereka dalam bernegosiasi juga menunjukkan bahwa kelemahan dari posisi mereka. Kalau kuat, mereka pastilah langsung menyerang kaum Muslimin yang hendak datang ke Mekah pada waktu itu.
  2. Jika penduduk Mekah tidak diperbolehkan untuk menyeberang ke Madinah, maka sangat jelas jumlah kaum Muslimin tidak akan bertambah, sebaliknya kaum Quraisy juga tidak akan berkurang.
  3. Jika penduduk dari Madinah yang pergi ke Mekah maka tidak diperbolehkan untuk kembali lagi ke Madinah, tentu warga Madinah akan semakin berkurang.
  4. Poin ke-4 ini bisa disebut imbang antara keduanya.
  5. Kaum Muslimin yang sudah menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju ke Mekah, namun kini harus pulang tanpa bisa menunaikan ibadah haji. Tahun berikutnya pun, mereka hanya boleh tiga hari saja di Mekah, tentu tak cukup untuk berhaji.

Tak heran lagi jika perjanjian ini sangat mengecewakan sekali bagi sebagian kaum Muslimin. Bahkan Umar bin Khattab pun sempat melakukan protes keras terhadap isi perjanjian hudaibiyah ini.

Ketika Nabi Muhammad SAW telah memerintahkan umatnya untuk menyembelih hewan kurban yang telah mereka siapkan waktu ke Mekah yang bertujuan sebagai tanda berakhirnya ibadah Haji, tidak ada satu pun yang bersegera mematuhinya, mungkin karena bingung atau protes kepada Rasulullah SAW.

Namun lambat laun akhirnya telah terbukti, bahwa ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai sisi politik yang sangat hebat, yang orang lain mungkin tidak mampu menangkapnya.

Demi kerahasiaan strategi tersebut, beliau pun tidak mengungkapkan rahasia di balik perjanjian tersebut. Setelah kemenangan Islam itu terjadi.

Baca Juga : Perjanjian Roem Royen

Isi Terpenting dari Perjanjian Hudaibiyah

perjanjian hudaibiyah

elnuha.net

  1. Perjanjian ini yang ditandatangani langsung oleh Suhail bin Amr, sebagai perwakilan dari kaum Quraisy. Suku Quraisy adalah suku yang paling terhormat di daerah Arab, sehingga siapapun mereka akan menghormati apa yang telah mereka tentukan. Dengan penandatanganan dari perjanjian ini, makaKota  Madinah diakui sebagai suatu daerah yang mempunyai otoritas tersendiri. Jika Suku Quraisy telah mengakuinya, maka suku – suku yang lain pun pasti juga akan mengakuinya.
  2. Dengan perjanjian ini, maka pihak kaum Quraisy (Mekah) memberi kekuasaan kepada Madinah untuk menghukum diri mereka sendiri  jika menyalahi perjanjian yang telah disepakati tersebut. Ternyata sangat hebat sekali konsekuensi yang terdapat dari perjanjian ini. Kaum Muslimin yang berada di Madinah yang tadinya dianggap bukan apa – apa, namun sejak perjanjian itu dibuat dan berada dalam posisi bisa menghukum suku yang paling terhormat di Arab yaitu kaum Quraisy. Perlu diketahui juga bahwa Islam melarang untuk memerangi suatu kaum atau seseorang tanpa orang atau kaum tersebut melakukan kesalahan terlebuh dahulu. Ini bisa dilihat dalam Al Qur’an Surat Al Hajj ayat 39 – 40.

Dengan keuntungan yang telah didapat dari Perjanjian Hudaibiyah itu, maka Nabi Muhammad SAW tetap berusaha mengukuhkan status Madinah dengan cara mengutus berbagai sahabat kepada pemimpin negara – negara tetangga, di antaranya seperti Mesir, Persia, Romawi, Habasyah (Ethiopia), dan lain – lain. Selain itu beliau juga menyebarkan pendakwah untuk menyebarkan Agama Islam di berbagai negara tersebut.

Selain itu, adanya jaminan bahwa kaum Quraisy ini tidak akan memusuhi kepada kaum Muslimin, kaum Muslimin pun bisa dengan leluasa untuk menghukum kaum Yahudi Khaibar yang telah mendalangi penyerangan mereka terhadap kaum Muslimin Madinah yang terjadi dalam Perang Ahzab/ Khandaq.

Ini yang beliau lakukan sehingga kaum Yahudi pun di kemudian hari tidak berani lagi untuk mengganggu kaum Muslimin Madinah.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga sudah mengetahui bahwa karakter orang – orang yang berada di Mekah. Beliau yakin bahwa mereka akan selalu melanggar perjanjian itu sebelum masa berlakunya selesai. Dan hal itu memang terjadi pada saat itu, sehingga Rasulullah SAW pun memiliki landasan hukum bahwa untuk melakukan penaklukan pada kota Mekah.

Penaklukan Pada Kota Mekah terjadi damai tanpa harus pertumpahan darah karena kaum musyrikin sudah tidak berdaya lagi pada saat itu.

Perjanjian Hudaibiyah juga merupakan salah satu pengakuan bahwa Kaum Muslimin pun berhak untuk berziarah ke Ka’bah dan melakukan upacara-upacara seperti ibadah haji. Dengan demikian, mereka pun telah mengakui bahwa Agama Islam adalah Agama yang sah di antara agama-agama lain di jazirah pada saat itu.

Baca Juga : Organisasi Internasional

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply