√ perjanjian bongaya, Sejarah, Latar Belakang, Isi, Tokoh

Elnuha.Net – Sebelum Indonesia merdeka Setidaknya ada 30 pasal dalam Perjanjian Bongaya ini yang diteken di Makassar yang dilakukan oleh Sultan Hasanuddin dan Cornelis Speelman pada tanggal 18 November 1667, tepat hari ini 351 tahun lalu.

Sejarah ini membuktikan bahwa, hampir seluruh pasal perjanjian itu dapat merugikan Kesultanan Gowa dan, sebaliknya, amat menguntungkan bagi VOC.

Intinya, Perjanjian Bongaya ini menjadi legitimasi yang sangat kuat sekali bagi kaum kompeni untuk mereka menguasai perdagangan yang bertepat di wilayah Kesultanan Gowa dan kerajaan-kerajaan taklukannya.

Bahkan tidak boleh ada bangsa asing yang lainnya yang berniaga di kawasan tersebut tanpa persetujuan dari pihak Belanda.

Sultan Hasanuddin sendiri sempat melanggar kesepakatan tersebut dengan kembali melakukan serangan terhadap Belanda lantaran beliau merasa sangat dirugikan. Namun, VOC masih terlalu kuat dan akhirnya berhasil menjungkalkan sang sultan dari singgasananya.

Perjanjian Bongaya ini tetap diterapkan dan menjadi awal kemunduran bagi Kesultanan Gowa.

Latar Belakang Perjanjian Bongaya

perjanjian bongaya

elnuha.net

Perjanjian Bungaya sendiri lebih sering disebut dengan nama Perjanjian Bongaya atau Perjanjian Bongaja. Perjanjian ini adalah salah satu perjanjian perdamaian yang telah ditandatangani pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya.

Bukan merupakan perjanjian yang baik bagi pihak Indonesia, Perjanjian Bongaya ini justru tampak merugikan sekali bagi Negara Indonesia.

Perjanjian ini terjadi kepada dua belah pihak, yakni dari Kesultanan Gowa yang diwakili oleh Sultan Hasanuddin dan pihak VOC yang juga diwakili oleh Laksamana Cornelis Speelman.

Meski dai namanya juga disebut dalam perjanjian perdamaian, isi sebenarnya dari perjanjian Bongaya ini adalah deklarasi kekalahan Gowa dari VOC (Kompeni).

Selain dari bentuk deklarasi dalam kekalahan VOC ini, perjanjian ini juga merupakan salah satu pengesahan monopoli oleh VOC untuk perdagangan dengan sejumlah barang yang berada di pelabuhan Makassar. Padahal, perdagangan tersebut harusnya dikuasai oleh Kasultanan Gowa.

Pada saat terjadi peperangan antara dua belah toko yaitu Sultan Hasanudin dengan pasukan kompeni VOC ini, ia merasa telah didesak dan akhirnya dipaksa untuk tanda tangan.

Pada peperangan tersebut, kompeni VOC juga dibantu oleh pasukan Aru Palaka dan pasukan Kapten Yonker.

Hal ini telaah terjadi sebelum perjanjian bongaya dibuat, saat itu di Makassar sedang terjadi perselisihan antara Arung Palakka, seorang pangeran  yang berasal dari Kerajaan Bone / Suku Bugis dengan Kerajaan Makassar / Gowa yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Hassanudin.

Dari sinilah akhirnya Sultan Hasanudin justru makin terdesak dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian perdamaian tersebut di Desa Bongaya pada tahun 1667. Padahal, kota Makassar sendiri sebelumnya juga masih dapat dipertahankan kedudukannya oleh Sultan Hasanudin.

Baca Juga : Perjanjian Linggarjati

Kesepakatan yang Merugikan

perjanjian bongaya

elnuha.net

Perjanjian Bongaya yang dilaksanakan pada 1667 menjadi rangkaian babak akhir dari peperangan antara Kesultanan Gowa melawan VOC yang sudah berlangsung sejak awal 1660.

Sultan Hasanuddin sendiri terpaksa untuk menandatangani perjanjian setelah Gowa menelan beberapa kali kekalahan dari Belanda pada medan peperangan.

Dikutip dari Sejarah Maritim Indonesia bahwa (2006) karya Agus Supangat dan kawan-kawan, banyak pasal yang dapat merugikan Gowa dalam isi Perjanjian Bongaya tersebut dan terpaksa harus diterima Sultan Hasanudin.

Pihak Belanda dalam hal ini juga sangat diuntungkan dengan perjanjian itu sebagai legitimasi untuk menguasai, mendominasi, bahkan memonopoli perniagaan yang berada di kawasan Sulawesi Selatan. Pasal 6, misalnya, menyebutkan bahwa tidak ada bangsa Eropa yang lainnya yang diperkenankan masuk atau melakukan perdagangan di Gowa.

Tak hanya dari bangsa Eropa saja yang tidak boleh berniaga di wilayah Gowa ini. Pada Pasal 7 juga menyebutkan bahwa orang Moor (Muslim India), Siam (Thailand), Aceh, Jawa, hingga Melayu pun juga dilarang untuk memasarkan barang-barang dari Cina.

Barang siapa yang melangar aturan tersebut maka akan dijatuhi sanksi dan VOC berhak menyita barang-barang dagangannya.

Intinya, seluruh penguasaan serta akses perdagangan yang berada di Gowa dan sekitarnya telah diambil alih sepenuhnya oleh pihak kompeni. Bahkan, sebagaimana yang tertera pada Pasal 8, VOC telah dibebaskan dari pajak dan bea impor maupun ekspor.

Gowa tentu saja sangat dirugikann dalam hal ini. Bahkan, VOC menjadi pihak yang mengatur roda perekonomian kesultanan pimpinan Sultan Hasanuddin pada saat itu.

Seperti yang sudah diungkap Bernard Hubertus Maria Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2008), Pasal 12 sudah mengatur bahwa mata uang yang berlaku di Gowa yaitu koin Belanda seperti yang digunakan di Batavia.

Otoritas VOC juga berhak untuk melarang warga Gowa untuk melakukan pelayaran ke daerah lain. Hanya beberapa tempat saja yang diperbolehkan untuk dituju mereka, yakni sebagian Jawa seperti, Bali, Batavia, Banten, Jambi, Palembang, Kalimantan, dan Johor, itu pun juga harus meminta izin terlebih dahulu terhadap komandan kompeni yang berwenang di daerah Gowa tersebut.

Apabila aturan itu dilanggar, maka si pelaku akan dianggap dan diperlakukan sebagai musuh, demikian bunyi pada Pasal 9.

Terkait kerugian yang telah diderita selama perang berlangsung, demikian disebut juga di dalam Pasal 5, Kesultanan Gowa wajib membayar ganti rugi bagi seluruhnya kepada VOC. Selain itu, tercantum juga di dalam Pasal 13, bahwa Sultan Hasanuddin dan para bangsawan di Gowa harus mengirimkan uang senilai 1.000 budak pria dan wanita untuk dikirim ke Batavia.

VOC juga memperlemah pada kekuatan Gowa lewat Perjanjian Bongaya ini. Termaktub dalam Pasal 10 dan 11, bahwa seluruh benteng yang dibangun oleh Kesultanan Gowa di sepanjang pesisir Makassar wajib diruntuhkan.

Benteng yang diperbolehkan tetap berdiri pada saat itu adalah Benteng Sombaopu yang ditinggali oleh Sultan Hasanuddin.

Sementara Benteng yang berada Ujung Pandang akan diserahkan kepada pihak VOC beserta tanah dan desa-desa di sekitar benteng tersebut.

Selain itu juga, dinukil dari Sosiologi Hukum dalam Perubahan pada tahun (2009) suntingan Antonius Cahyadi dan Donny Danardono, pihak kompeni diperbolehkan untuk membangun Benteng Rotterdam di Makassar.

Adapun bunyi di dalam Pasal 3 yang menegaskan bahwaa, kompeni berhak untuk mengambil seluruh alat-alat yang tersisa buat perang, seperti meriam, senjata, amunisi, dan sejenisnya.

Sedangkan bunyi di dalam Pasal 4 sudah diatur mengenai penyerahan semua orang Gowa yang sudah terbukti bersalah atas pembunuhan orang Belanda di berbagai tempat. Mereka pun akan dijatuhi hukuman sesuai keputusan yang di keluarkan oleh pengadilan VOC.

Perjanjian Bongaya sendiri telah mewajibkan pula kepada Kesultanan Gowa untuk siap sedia dalam membantu kompeni untuk menghadapi musuh-musuhnya yang datang dari dalam maupun dari luar, begitu bunyi yang berada di Pasal 23.

Kesultanan Gowa sendiri juga harus melepaskan pengaruhnya atas Bone dan Luwu. Pada tahun 1672, takhta Bone telah diserahkan kepada Arung Palakka yang pada saat itu juga ikut dalam membantu VOC mengalahkan Gowa.

Menurut Edward Poelinggomang dalam Makassar Abad XIX: Studi ini Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim di tahun (2002), Arung Palakka bahkan sudah diberi keleluasaan oleh pihak VOC untuk meluaskan wilayahnya.

Kompeni telah mengatur pula kehidupan masyarakat Gowa, juga hubungan dengan kerajaan atau wilayah-wilayah bekas mereka kalahkan, termasuk Ternate, Tidore, Bacan, Butung, Soppeng, Turatea, Layo, Bajing, Bima, dan negeri-negeri yang lainnya.

Singkat kata, dalam Perjanjian Bongaya ini memang benar-benar melucuti pengaruh Kesultanan Gowa yang pernah amat digdaya di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, baik itu dari segi ekonomi, sosial, maupun segi politik.

Baca Juga : Organisasi Internasional

Peran Sultan Hasanudin dalam Perjanjian Bongaya

perjanjian bongaya

elnuha.net

Sultan Hasanuddin adalah sebuah sosok yang lahir dengan nama Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe ini juga memiliki julukan dengan nama Haantjes van Het Oosten.

Julukan ini diberikan kepada sultan hasanudin oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan atau Ayam Jago dari Benua Timur, karena keberaniannya dalam melawan penjajah Belanda pada waktu itu.

Sultan Hasanuddin ini merupakan sosok anak kedua dari Raja Gowa yang ke-15, yakni Manuntungi Daeng Mattola, Karaeng Lakiung yang bergelar Sultan Malikussaid dan ibunya yang memiliki nama Sabbe To’mo Lakuntu yang merupakan Putri dari bangsawan Laikang.

Sultan Hasanuddin sendiri sudah menampakkan jiwa kepemimpinannya sebagai seorang pemimpin masa depan. Kecerdasan dan kerajinannya yang dimiliki beliau dalam belajar sangat menonjol dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Ia juga telah menempuh pendidikan di Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam di Mesjid Bontoala.

Selama kepemimpinan ayahnya sosok Sultan Hasanudin ini kerap kali diajak untuk menghadiri perundingan-perundingan penting pada waktu itu. Hal ini bertujuan agar mengajarkankepada  Sultan Hasanuddin tentang ilmu pemerintahan, diplomasi dan strategi dalam peperangan.

Di umur yang ke 21 tahun, Sultan Hasanudin ini dinobatkan menjadi Raja Gowa yang ke-16 pada bulan November 1653 yang menggantikan ayahnya.

Sultan Hasanuddin bukan merupakan putra dari mahkota yang mutlak menjadi pewaris kerajaan pada waktu itu namun, hal ini karena derajat kebangsawanan yang dimiliki oleh ibunya lebih rendah dari ayahnya. Saat memerintah, Sultan Hasanudin ini akan dihadapkan pada peperangan yang terjadi karena diadu domba oleh pihak Belanda.

Peperangan Sebelum Perjanjian Bongaya

perjanjian bongaya

elnuha.net

Sultan Hasanuddin yang telah memerintah pun akhirnya melanjutkan perjuangan ayahnya yang melawan VOC yang menjalankan monopoli perdagangannya di Indonesia di bagian timur.

VOC ini menganggap bahwa orang – orang Makasar dan Kerajaan Gowa sebagai penghalang dan saingan berat dalam perdagangan mereka. Bahkan, VOC juga menganggap bahwa Kesultanan Gowa sebagai musuh yang sangat berbahaya bagi mereka pada waktu itu.

Sultan Hasanuddin yang saat itu sudah memerintah Kerajaan Gowa ketika Negara Belanda sedang berusaha menguasai hasil rempah-rempah dan memonopoli hasil perdagangan yang berada di wilayah timur Indonesia.

Salah satu cara Sultan Hasanudin menghindarkannya yaitu dengan cara melarang orang Makasar berdagang dengan musuh-musuh Belanda seperti Portugis dsb.

Kerajaan Gowa telah menentang dengan keras bahwa hak monopoli yang hendak dijalankan oleh VOC. Sultan Alaudin, Sultan Muhammad Said, dan Sultan Hasanuddin ini memiliki pendirian yang sama. Bahwa Tuhan telah menciptakan segala yang ada bumi dan lautan ini untuk dimiliki dan dipakai bersama-sama bukan perseorangan.

Itu sebabnya kenapa Kerajaan Gowa sangat menentang sekali dengan usaha monopoli oleh VOC dan ini yang membuat VOC berusaha untuk menghancurkan dan menyingkirkan Kerajaan Gowa dari tanah jawa dan menguasainya. Kerajaan Gowa saat itu merupakan kerajaan yang paling terbesar yang menguasai jalur perdagangan di sana.

Tanggal 24 November 1666, armada besar dari pasukan Aru Palaka bertolak dari pesisir utara Batavia dan menuju Celebes atau Sulawesi. Pasukan ini terdiri dari 21 kapal perang yang mengangkut kurang lebih 1000 prajurit.

Pasukan Aru Palaka yang beranggotakan sekitar 400 orang ini jadi semakin nyakin dan percaya diri berkat bantuan VOC yang memberikan 600 orang tentaranya untuk membantu.

Tentara dari VOC ini merupakan tentara yang berasal dari Eropa yang paling terlatih dan sudah berpengalaman dalam berperang. Mereka pun berangkat dengan satu tujuan, yaitu untuk mengalahkan Kerajaan Gowa.

Pada saat itu, Kerajaan Gowa yang mayoritas berasal dari masyarakat Makassar melawannya, dipimpin seorang raja yang perkasa berjuluk Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin.

Dengan kekuatan dan perlawanan yang cukup besar dari Batavia, Kasultanan Gowa pada akhirnya menyerah pada peperangan tersebut, dan tanggal 18 November 1667 Sultan Hasanuddin terpaksa harus menandatangani Perjanjian Bongaya ini.

Perjanjian ini telah membuktikan kemenangan oleh VOC dan Aru Palaka walaupun selama beberapa tahun yang berikutnya serpihan pasukan dari Kasultanan Gowa masih melakukan perlawanan terhadap VOC.

Pada tahun 1666, di bawa oleh pimpinan Cornelis Speelman, Belanda pun tetap berusaha untuk menundukkan kerajaan-kerajaan kecil. Namun, mereka masih belum berhasil untuk menundukkan Kerajaan Gowa ini.

Hal ini dikarenakan Sultan Hasanuddin masih tetap berusaha menggabungkan kekuatan dari kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Belanda agar semakin kuat pasukan dari Gowa.

Pertempuran ini masih terus berlangsung begitu juga pasti diadakannya berbagai perjanjian perdamaian dan gencatan senjata, namun semua itu selalu dilanggar oleh VOC dan sangat merugikan bagi Kerajaan Gowa.

Pada saat peperangan pada pihak Belanda terus menambah kekuatan mereka dengan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa pun semakin terdesak dan semakin lemah. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Sultan Hasanuddin pun bersedia untuk menandatangani Perjanjian Bungaya tersebut, pada 18 November 1667.

Isi Perjanjian Bongaya

perjanjian bongaya

9fpgsajadeh.wordpress.com

Karena pada peperangan yang sangat sengit dari Belanda dan Gowa maka pihak dari VOC sangat kuat dan banyak yang memihak, akhirnya Sultan Hasanudin pun semakin terdesak oleh kompeni VOC yang akan mengambil alih perdagangan di kota Makassar waktu itu.

Sedangkan Isi Perjanjian Bongaya sendiri sangat merugikan bagi masyarakat Makassar saat itu adalah sebagai berikut:

  • VOC berhasil menguasai monopoli perdagangan yang berada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
  • Makassar harus rela untuk melepas seluruh daerah bawahannya, misalnya seperti Sopeng, Luwu, Wajo, dan Bone.
  • Aru Palaka dikukuhkan atau ditetapkan sebagai Raja Bone pada waktu itu.
  • Makasar harus rela untuk menyerahkan seluruh benteng-benteng yang ada untuk VOC.
  • Makassar wajib membayar biaya perang dalam bentuk hasil bumi mereka kepada VOC setiap tahunnya

Perjanjian tersebut sudah jelas terlihat bahwa sangat merugikan bagi rakyat Indonesia. Hal ini telah memperlihatkan jika kota Makasar dan politik telah di adu domba Belanda terhadap Sultan Hasanudin dan Aru Palaka berhasil dilaksanakan.

Hal ini mala semakin menghancurkan persatuan rakyat di Makassar karena ulah pihak Belanda.

Dalam peperangan yang begitu besar yang terjadi pada saat itu, Sultan Hasanudin harus melawan Aru Palaka yang saat itu di bantu oleh tentara VOC yang mana sudah dipimpin oleh Kapten Cornelis Speelman. Dan pada akhirnya Sultan Hasanudin pun mengalami kekalahan telak.

Ia pun pada akhirnya dan harus dipaksa untuk menandatangani sebuah perjanjian perdamaian yang berada di Desa Bongaya pada tahun 1667.

Baca Juga : Perjanjian Saragosa

Isi Perjanjian Bongaya :

perjanjian bongaya

syuhada.net

  • Seluruh pejabat sampai rakyat Kompeni yang memiliki darah kebangsaan Eropa yang baru-baru ini atau pada masa lalu telah melarikan diri dan masih tinggal di sekitar daerah Makassar harus segera dikirim kepada Laksamana (Cornelis Speelman).
  • Segala jenis alat senjata seperti meriam, atau uang, dan barang-barang yang lainnya, yang diambil dari kapal Walvisch di Selayar dan Leeuwin di Don Duango, harus secepatnya diserahkan atau dikembalikan kepada Kompeni.
  • Orang-orang yang mempunyai bukti salah atas kasus pembunuhan oleh orang Belanda di berbagai tempat harus diadili dan segera oleh Perwakilan pihak Belanda dan mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya.
  • Raja dan bangsawan darii Makassar harus segera membayar ganti rugi dan seluruh hutang pada Kompeni, dan diberi waktu paling lambat sampai musim berikutnya.
  • Seluruh orang Portugis dan Inggris harus segera diusir dari wilayah Makassar dan tidak boleh lagi diterima di sini, tinggal di sini maupun melakukan perdagangan pun tidak boleh.
  • Tidak ada lagi orang kebangsaan Eropa yang boleh masuk atau melakukan perdagangan di Makassar kecuali kompeni.
  • Hanya Kompeni lah yang bebas melakukan perdagangan di Makassar ini. Baik orang “India” atau “Moor” (Muslim India), Jawa, Melayu, Aceh, atau Siam pun tidak boleh untuk memasarkan kain dan barang-barang mereka dari Tiongkok karena hanya Kompeni yang boleh melakukan hal tersebut.
  • Jika ketahuan, maka semua yang melanggar akan dihukum dan barangnya akan disita oleh pihak Kompeni.
  • Kompeni harus bebas dari bea dan pajak impor maupun ekspor kemanapun.
  • Pemerintah dan rakyat Makassar juga tidak boleh berlayar ke mana saja kecuali ke Bali, pantai Jawa, Jakarta, Banten, Jambi, Palembang, Johor, dan Kalimantan. Pemerintah dan masyarakat Makassar harus meminta surat izin terlebih dahulu dari Komandan Belanda di Makassar. Bagi yang berlayar tanpa surat izin maka dianggap musuh dan diperlakukan sebagaimana musuh sampai selamanya.
  • Tidak ada satu kapal pun yang boleh dikirim ke Bima, Solor, Timor, dan lainnya semua wilayah di timur Tanjung Lasso, di utara atau juga timur Kalimantan atau pulau-pulau yang masih di sekitarnya. Yang melanggar maka harus menebus dengan nyawa dan harta.
  • Seluruh benteng yang ada di sepanjang pantai Makassar harus segera dihancurkan, yaitu: Barombong, Pa’nakkukang, Garassi, Mariso, Boro’boso. Kemudian, hanya di wilayah Sombaopu saja yang boleh tetap berdiri untuk ditempati oleh raja.
  • Benteng Ujung Pandang pun juga harus diserahkan kepada Kompeni dalam keadaan yang bagus tanpa ada kerusakan sedikitpun, bersamaan dengan desa dan tanah yang menjadi wilayahnya.
  • Koin Belanda seperti yang sudah digunakan di Batavia juga harus diberlakukan di Makassar untuk perniagaan.

Kelanjutan Perjanjian Bongaya

perjanjian bongaya

kalimat.id

Pada tahun 1672, Aru Palaka telah dinobatkan sebagai Sultan Bone. Impiannya akhirnya menjadi kenyataan. Sosok Aru Palaka memang hanya meminta haknya saja kembali sebagai pewaris tahta Bone. Kemudian, ia pun membebaskan Bone dari penguasaan Gowa dan membalaskan dendamnya kepada Gowa, meskipun dengan cara yang tidak bisa memuaskan semua pihak.

Setelah kekalahan yang diterima oleh Kerajaan Gowa dan pada akhirnya Sultan Hasanuddin pun mundur dari benteng Somba Opu ke benteng Kale Gowa, maka usaha Speelman untuk memecah belah persatuan kerajaan Gowa yang terus dilancarkan.

Usaha ini akhirnya berhasil, setelah melakukan “pengampunan yang umum”. Siapa yang mau menyerah, maka akan diampuni oleh pihak Belanda. Beberapa pembesar dari kerajaan pun akhirnya menyatakan menyerah. Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese juga telah menyatakan menyerah di Perjanjian Bungaya.

Sultan Hasanuddin sebelumnya sudah mengucap sumpah bahwa tidak akan sudi untuk bekerja sama dengan penjajah Belanda.

Pada tanggal 29 Juni 1669, Sultan Hasanuddin akhirnya meletakkan jabatan nya sebagai Raja Gowa yang ke-16 setelah selama 16 tahun beliau berperang melawan penjajah dan berusaha mempersatukan kerajaan Nusantara ini.

Pro Kontra Aru Palaka dalam Perjanjian Bongaya

perjanjian bongaya

gardanasional.id

Sejarah yang telah beredar selama ini lebih cenderung menempatkan Aru Palaka sebagai gambaran atau sosok pengkhianat. Sedangkan, Sultan Hasanuddin sang Sultan Gowa selalu diidentikkan sebagai pahlawan besar. Namun, sebagian masyarakat Bone meyakini bahwa Aru Palaka adalah orang paling yang paling berjasa.

Bukan tanpa alasan, dibuatnya patung Aru Palaka yang berdiri gagah di Watampone, ibukota Bone karena ia masih dihormati di sana. Aru Palaka memimpin Kesultanan Bone selama 24 tahun atau sampai akhir hayatnya.

Aru Palaka pun meninggal dunia pada 6 April 1696 atau 321 warsa yang telah lampau. Hingga saat ini, jalan hidup Aru Palaka masih menyisakan pro-kontra, antara pahlawan atau pengkhianat.

Hikmah Perjanjian Bongaya

perjanjian bongaya

ibnuasmara.com

Perjanjian Bongaya tersebut sangat merugikan bagi masyarakat Indonesia, terlebih di kota Makasar dan politik adu domba Belanda terhadap Sultan Hasanudin dan Aru Palaka yang telah menghancurkan persatuan rakyat di Makasar.

Nah itulah pengertian dan sejarah Perjanjian Bongaya telah elnuha bahas secara mendetail yang meliputi latar belakang, tujuan, waktu dan tempat, pihak dan tokoh yang terlibat, isi dan hasil serta dampak yang ditimbulkan dari diadakannya perjanjian Saragosa tersebut. Semoga bisa menjadi referensi sejarah buat teman-teman semua.

Terimakasih 🙂

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply