√ Perjanjian Aqabah, Sejarah, Pengertian Beserta Gambar (LENGKAP)

Assalamualaikum sahabat Elnuha, Insya Allah kali ini admin akan membahas tentang perjanjian aqabah.

Apa itu perjanjian aqabah?

Perjanjian Aqabah (621 M) adalah perjanjian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Sallallahu’Alaihi Wasallam dengan 12 orang dari Yatsrib yang kemudian mereka memeluk Agama Islam. Bai’at ‘Aqabah ini terjadi di tahun kedua belas di dalam kenabiannya. Kemudian mereka berbaiat atau (bersumpah setia) kepada Muhammad SAW.

Isi baiat itu ada tiga perkara yaitu, sebagai berikut:

  • Tidak boleh menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun.
  • Melaksanakan apa saja yang Allah SWT perintahkan.
  • Meninggalkan apa saja yang Allah SWT larang.

Sejarah Singkat Tentang Perjanjian Aqabah

perjanjian aqabah

alif.id

Pada daerah tugas tablighnya, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi untuk menemui enam orang yang terdiri dari golongan Ansar yang datang untuk menunaikan ibadah haji dan membacakan sebagian dari ayat suci Al-Quran untuk mereka.

Sebelum mereka bertemu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka telah mendengar ciri-ciri kenabian dari orang yang ahli Kitab dan telah yakin akan kenabian beliau lalu kemudian mereka memeluk Agama islam.

Namun pada waktu itu mereka tidak memiliki tanggung jawab terhadap Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka hanya mengatakan jika situasi Yatsrib semakin membaik, maka tahun depan mereka akan datang lagi kepada Nabi.

Sekembalinya mereka ke Yastrib, isu tentang islam mulai beredar luas dan bertambahlah jumlah orang – orang yang tertarik untuk masuk ke dalamAgama Islam.

Pada tahun – tahun berikutnya duabelas orang jamaah haji yang berasal dari kota Yastrib bertemu langsung dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melakukan bai’at kepada Nabi. Perjanjian ini lalu dinamakan sebagai“Perjanjian ‘Aqabah yang Pertama.”
Dalam perjanjian ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan beberapa poin yang harus disepakati oleh mereka, yaitu:

  • Janganlah kalian berani untuk menyekutukan Allah SWT
  • Janganlah kalian berani untuk mencuri
  • Janganlah kalian berani mendekati perbuatan zina
  • Janganlah kalian berani untuk membunuh anak-anak kandung kalian sendiri
  • Janganlah kalian mencemarkan dan menfitnah orang lain
  • Janganlah kalian melanggar perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perbuatan yang baik

Kelanjutan dari perjanjian ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda:

“Jika kalian setia terhadap janji maka imbalan kalian adalah surga nantinya, dan jika tidak maka urusan kalian (kembali) kepada Allah SWT, jika berkehendak Ia menghukum dan jika menghendaki Allah juga yang mengampuni.”

Setelah itu Nabi langsung mengutus sahabatnya yang bernama Mus’ab bin Umair sebagai muballigh bagi Agama Islam di Yatsrib.

Lalu pada tahun berikutnya datanglah 70 laki-laki dan dua perempuan yang berasal dari penduduk Yatsrib yang berbaiat kepada Nabi dan membuat janji bahwa mereka akan membela Nabi di setiap keadaan. Perjanjian ini lalu dikenal sebagai perjanjian ‘Aqabah Kedua dan dimana setelah ini ada orang-orang Muslim dari Mekah mulai hijrah ke Madinah.

Baca Juga : Konferensi Meja Bundar

Perjanjian Aqabah I

Perjanjian Aqabah I

slidegur.com

Pada tahun – tahun berikut setelahnya, bertepatan pada tahun 621 M sejumlah 12 orang jamaah haji dari Yastrib bertemu dengan Rasulullah SAW dan menyimak dakwahnya. Mereka pun menyambut dengan sangat baik sehingga mereka menyatakan bahwa keIslaman dan melakukan bai’at kepada beliau.

Perjanjian ini kemudian dinamakan sebagai Perjanjian Aqabah I. Beberapa poin dari kesepakatan dalam perjanjian Aqabah ini yaitu:

  • Menyatakan kesetiaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW
  • Menyatakan bahwa mereka harus rela mengorbankan harta dan jiwa
  • Menyatakan kesediaan mereka untuk menyebarkan agama Islam yang dianut oleh Nabi
  • Menyatakan bahwa tidak akan menyekutukan Allah SWT
  • Menyatakan tidak akan membunuh siapapun
  • Menyatakan tidak akan lagi untuk melakukan perbuatan curang dan dusta.

Baiat pertama ini disebut sebagai baiat wanita karena tidak lagi melibatkan peperangan kecuali yang terjadi pada pikiran setiap orang bahwa setelah dilakukan pembinaan akidah dan pikiran.

Sebagai strategi pengembangan Agama Islam di Yastrib, maka Nabi mengirim Mus’ab bin Umair untuk bergabung dengan rombongan yang pulang ke Yastrib.

Tugasnya yaitu untuk membantu penduduk Yastrib yang telah menyatakan keislamannya agar mereka bisa menyebarkan ajaran Islam disana. Mush’ab kemudian menjadi guru mengaji di kota Madinah, sebagai imam dalam shalat karena kaum Aus dan Khazraj tidak mau salah satu dari mereka yang menjadi imam, maka beliaulah imamnya.

Perjanjian Aqabah II

Perjanjian Aqabah

flickr.com

Sejarah perjanjian aqabah II yang dilaksanakn pada 622 SM yang langsung dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap 73 orang pria dan 2 orang wanita yang berasal dari Yastrib diwaktu tengah malam.

Kedua wanita tersebut yang bernama Nusaibah binti Ka’ab dan Asma’ binti ‘Amr bin ‘Adiy.

Perjanjian ini dibuat pada tahun kenabian yang ketiga belas. Mush’ab juga kembali ikut dengan semua penduduk Yastrib yang sudah memeluk Agama Islam terlebih dahulu, kemudian mereka pun menemui Rasulullah SAW di Aqabah pada suatu malam hari. Nabi pun mendatangi mereka bersama pamannya yang bernama Al Abbas bin Abdil Muthalib.

Al Abbas ketika itu belum memeluk Agama Islam, namun ia ingin meminta jaminan bahwa keponakannya yaitu Nabi Muhammad SAW akan selamat dan aman kepada orang- orang Yastrib tersebut. Isi pada sejarah perjanjian aqabah yang kedua adalah, sebagai berikut:

  • Kesiapan penduduk Yastrib untuk melindungi Nabi Muhammad SAW dari bahaya apapun
  • Keikutsertaan penduduk Yastrib untuk berjuang bersama dengan harta dan jiwa.
  • Penduduk Yastrib akan ikut memajukan agama Islam dan membantu untuk menyiarkan agama kepada sanak saudara mereka masing-masing.
  • Kesiapan para penduduk Yastrib untuk menerima segala resiko dan tantangan  yang akan menghadang mereka suatu saat.

Setelah melakukan baiat sebagai bagian dari sejarah diadakanya perjanjian Aqabah, maka Nabi Muhammad SAW langsung kembali ke Mekkah untuk terus berdakwah namun selalu diganggu oleh kaum musyrik disana.

Nabi pun kemudian memerintahkan dirinya untuk hijrah ke Yastrib, baik sendiri maupun berkelompok. Mereka kemudian berhijrah dengan secara diam – diam agar kaum musyrik tidak mengetahui kepindahan mereka.

Orang pertama yang berhijrah adalah Abu Salamah bin Abdil Asad dan Mush’ab bin Umair dan juga Amr bin Ummi Maktum. Kemudian Bilal bin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ammar bin Yasir dan Umar bin Khatab pun ikut menyusul dalam rombongan yang berjumlah kurang lebih 20 orang.

Baca Juga : Perjanjian Bilateral

Pengertian Baiat

Pengertian Baiat

youtube.com

Baiat mempunyai arti adalah perjanjian atau ikrar bagi penerima yang sanggup untuk menanggung atau melakukan sesuatu yang disebutkan dalam perjanjian tersebut.

Istilah ini biasa digunakan ketika ada seorang Syekh yang akan menerima seorang murid dan akan menerima petunjuk – petunjuk tertentu yang didasarkan pada baiat sebagai amanah dari sang Syekh tersebut.

Istilah baiat ini juga digunakan dalam bidang yang lebih luas dan lebih jauh dalam ajaran Agama Islam, terutama untuk membantu menegakkan pelaksanaan syariat Islam itu sendiri.

Beberapa pengertian yang mengenai tentang istilah baiat dalam Risalatul Ta’alim karangan Hassan Al Banna dalam kaitannya dengan dakwah Islam yaitu, sebagai berikut:

  • Baiat untuk memahami agama Islam dengan sebenar – benarnya Baiat, karena kalau tidak memiliki pemahaman tersebut maka tidak akan sesuai dengan tata cara dan ajaran Islam atau dapat dihitung sebagai amal dalam ajaran Islam.
  • Baiat ini memerlukan keikhlasan, karena tanpa keikhlasan maka semua amal seseorang tidak akan diterima oleh Allah SWT.
  • Baiat ini untuk beramal yang ditentukan di awal dan akhirnya yang jelas.
  • Baiat ini bertujuan untuk berjihad.
  • Perjanjian pengorbanan yang bertujuan untuk mendapatkan surga-Nya.
  • Ikrar untuk taat dan patuh dalam mengikuti kepercayaannya dan sesuai dengan tingkatnya masing – masing.
  • Baiat ini untuk setia dan berpegang teguh padanya di setiap situasi dan kondisi.
  • Baiat untuk didasarkan pada dakwah dan dapat mencurahkan keikhlasan.
  • Sebagai pengikat persaudaraan anat muslim.
  • Sebagai dasar kepercayaan kepemimpinan dan gerakan sesama jamaah.

Alasan Pemilihan Yastrib

madaninews.id

Dalam sejarah perjanjian Aqabah ini, ada beberapa faktor yang membuat Baginda Rasulullah SAW memilih Yastrib sebagai tempat sebagai tempat hijrah para umat Islam. Faktor yang mempengaruhi antara lain, sebagai berikut:

  • Kota Yastrib adalah tempat yang paling dekat dengan Kota Mekkah.
  • Rasulullah SAW telah memiliki hubungan baik dengan penduduk di kota Yastrib sebelum diangkat menjadi Nabi, yang berasal dari ikatan persaudaraan oleh perantara kakeknya yang memiliki istri yang berasal dari kota Yastrib. Selain itu ayah Nabi juga dimakamkan di kota tersebut.
  • Nabi Muhammad SAW sudah mengenal penduduk Yastrib sebagai orang – orang yang memiliki budi pekerti yang baik dan lembut.
  • Hijrah merupakan keharusan bagi Baginda Nabi Muhammad SAW sendiri karena mendapat perintah langsung dari Allah SWT.

Alasan pemilihan kota Yastrib yang berada di dalam perjanjian Aqabah ini menunjukkan bahwa Nabi telah merencanakan dengan matang berbagai langkah strategis untuk dakwah Islam.

Proses hijrah ini telah disiapkan terlebih dahulu oleh Nabi dengan sangat matang dan juga mendapat dukungan dari penduduk Yastrib, juga karena secara fisik dan mental Rasulullah telah selalu siap untuk meninggalkan kota tempatnya lahir itu untuk meneruskan perjuangan dalam menegakkan ajaran tauhid.

Baca Juga : Perjanjian New York

Pemilihan Para Naqib

sumurimtiazdungun.wordpress.com

Setelah pelaksanaan dalam sejarah perjanjian Aqabah dibuat maka, Nabi kemudian meminta 12 orang pemimpin untuk dijadikan sebagai Naqib dalam rangka melaksanakan isi dari baiat tersebut. Susunan kepemimpinan tersebut terdiri dari 9 orang dari Kabilah Khazraj dan Kabilah Aus.

Aqib Khazraj

  • As’ad bin Zurarah bin Ads
  • Sa’d bin al-Rabi bin Amru
  • Abdullah bin Rawahah bin Tha’labah
  • Rafi bin Malik bin al-Ajlan
  • Al-Bara bin Marur bin Sakhr
  • Abdullah bin Amru bin Hiram
  • Ubadah bin al-Samit bin Qais
  • SA’d bin Ubaddah bin Dulaim
  • Al-Munzir bin Amru bin Dulam

Naqib Aus

  • Usaid bin Hudhair bin Simak
  • Sa’d bin Khaithamah bin al-Harith
  • Rifa;ah bin Abd al- Munzir bin Zubair

Sabda Rasulullah SAW kepada para Naqib tersebut bahwa beliau menyatakan kalau mereka semua adalah penjamin sebagaimana golongan al-Hawariyun yang menjamin kepada Isa bin Mariam dan Nabi Muhammad adalah penjamin para umatnya dan dijawab oleh mereka semua dengan suara bulat dan keras persetujuan.

Maka dalam perjanjian Aqabah ini dapat mendatangkan jalan baru untuk memperoleh kemenangan telah terbuka lebar dengan bantuan para rakyat Yastrib dan perlindungan mereka. Maka setelah itu Nabi Muhammda SAW memerintahkan kepada sahabat – sahabatnya untuk hijrah kembali ke Yastrib agar terbebas dari gangguan dari kaum kafir Quraisy.

Ok, mungkin saja bisa admin sampaikan buat sahabat elnuha semua, semoga bermanfaat buat sobat semua.

Terima kasih.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply