Jalan Jalan Ke Gunung Bromo

Pada akhir bulan Desember yang lalu saya dan rombongan Guru-guru Pondok Pesantren melakukan acara tadabur alam ke ke Gunung Bromo Pasuruan, Jawa Timur. Tujuan utama kami memang untuk ke Gunung Bromo. Tempat yang merupakan icon wisata Jawa Timur yang terkenal sangat indah itu. Sungguh sebelumnya saya belum pernah pergi ke sebuah Gunung, jadi ini yaa merupakan jalan-jalan perdana saya ke Gunung Bromo hehehe. 

Kami serombongan naik pesawat sore dari tangerang menuju surabaya. Harapan kami bisa sampai ke gunung bromo lebih awal agar bisa menyaksikan sunrise pada pagi dini hari itu. Dari bandung kami naik air asia menuju bandara juanda surabaya. Pesawat tiba lebih cepat dari jadwal karena keberangkatan (jam 20.00) juga lebih cepat dari jadwalnya.

Sampai Bandara Juanda

pixabay.com

Dari bandara juanda bus yang menjemput alhamdulillah sudah menunggu di sana. Setelah kami serombongan makan malam di Sidoarjo, bus kami pun langsung berangkat malam itu juga menuju Gunung Bromo. Melewati beberapa kabupaten seperti Sidoarjo dan Pasuruan.

Tepat tengah malam bus sampai ke hotel transit di Pananjakan. Ini berarti pertanda kalau kami sudah sampai di kawasan Gunung Bromo. Tepatnya kami berada di kawasan Pegunungan Tengger. Gunung Bromo adalah salah satu puncak Gunung di pegunungan Tengger yang sangat indah dan banyak menarik wisatawan dari lokal bahkan luar negri.

Suku Tengger

takaitu.com

Mendengar kata-kata Tengger itu kita pasti teringat suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo bukan. Orang tengger umumnya beragama Hindu. Fyi, menurut sejarah, suku tengger adalah sisa penduduk kerajaan Majapahit yang pada zaman dahulu yang menolak Agama Islam. Ketika Islam berkembang di pulau Jawa melalui para Wali Songo.

Penyebaran Islam pun sampai ke kerajaan Majapahit. Sebagian penduduk Majapahit yang tidak mau masuk Islam mengungsi ke dua tempat, yang pertama ke pegunungan Tengger dan menjadi suku Tengger, sebagian lagi ada juga yang menyeberang ke pulau Bali, berasimilasi dengan penduduk asli di sana, dan menyebarkan Agama Hindu di pulau Bali. Demikian flashback sejarah yang saya ingat. Kalau kita melewati rumah-rumah suku Tengger disana, kita pasti melihat keserupaan dengan desa-desa di Bali. yaa !! sebelas dua belas deh hehe.

Tepat di depan rumah salah satu penduduk Tengger itu terdapat sebuah pura kecil yang biasanya buat mereka menaruh sesaji.

Di hotel transit kami tidur sekitar tiga jam. Jam tiga pagi pun kami dibangunkan oleh pemandu wisata disana, karena petualangan ke Gunung Bromo pun akan segera dimulai pagi itu. Pemandu wisata sudah menyewa belasan (jeep) untuk menuju ke Gunung Bromo tersebut.

Menaiki Mobil Jeep

pixabay.com

 

Jip (jeep) adalah sebuah kendaraan yang sangat kuat untuk melewati lautan pasir dan bebatuan yang menanjak di sekitar jalanan di gunung bromo. Satu jip diisi maksimal sampai 4-5 penumpang, satu orang di depan dan empat orang bisa isi yang belakang. Jip-jip itu dikelola oleh penduduk asli setempat suku tengger.

Banyak sekali jip terdapat di halaman rumah-rumah orang tengger ini. Kendaraan seperti avanza, kijang inova, atau mobil merk lainnya jarang sekali terlihat di rumah-rumah penduduk, mungkin karena kurang cocok untuk jalan di pegunungan dan tanah berpasiri dan bebatuan disana.

Jalan-jalan menuju kawasan gunung bromo pun sangat padat sekali malam itu. Yaa mungkin karena malam minggu sehingga banyak wisatawan dari daerah lain yang ingin mengejar sunrise di gunung bromo pagi itu. Bus kami juga tidak bisa sampai ke puncak pananjakan, karena sudah susah sekali untuk mencari tempat parkir dan melaju ke atas. Akhirnya kami serombongan para penumpang jip memutuskan untuk berjalan kaki saja.

Banyaknya wisatawan yang berjalan kaki untuk menuju pananjakan adalah rezeki bagi tukang ojeg hehe. Puluhan tukang ojeg pun menawarkan jasa-jasa mereka untuk ke puncak pananjakan, mereka juga berkali-kali selalu mengatakan “masih jauh ke atas, pak/bu”. Tarif yang diminta adalah rp 20.000 per orang nya. Jika dua orang berboncengan maka tarifnya tetap dihitung rp 20.00/orang nya.

pixabay.com

 

Saya dan rombongan mengira Puncak Pananjakan itu masih jauh, maka saya pun menyerah dengan tawaran tukang ojeg tersebut. Saya pun naik ojeg ke Puncak Panajakan. Rupanya saudara-saudara… Puncak Pananjakan itu engga terlalu jauh.

Yaa dekat lah intinya, nggak sampai dua ratus meter dari tempat kami turun tadi dari mobil jip. Sedikit tertipu ya saya wkwkwk… Tapi ya sudahlah, diikhlaskan saja Rp 20.000 untuk jarak 200 meter itu, itung-itung membantu mereka.

Suasana Malam

pixabay.com

Malam itu pun langit sudah mulai terasa sangat dekat, mungkin karena kami berada di atas puncak Gunung. Bintang-bintang pun juga bertaburan di atas langit Gunung Bromo, terasa sangat dekat sekali bintang-bintang tersebut dengan kami. Sebelum nya saya belom pernah melihat suasana langit malam yang bertaburan bintang seindah malam itu, bersih tanpa polusi dan sunyi tanpa ada suara kendaraan.

Kalau kita di kota-kota besar seperti Jakarta,Bandung dan kota besar lainnya.

Mana pernah kita bisa melihat langit malam sebersih dan seindah ini. Sayang sekali saya tidak sempat memotretnya malam itu, karena tangan dan jemari saya sudah kaku akibat suhu di puncak Pananjakan begitu dingin sekali, dan baterai Hp saya pun juga waktu itu lagi habis. Sarung tangan, jaket tebal, dan kaos kaki tidak mampu menanahan dinginnya suhu di malam itu.

Oh iya nih temen-temen, waktu terbaik untuk mengunjungi Gunung Bromo adalah pada saat musim kemarau tepatnya di bulan (Juli-September), karena cuaca saat itu sangat bagus, tiada hujan, dan langit begitu bersih dan indah. Cuman ya itu hehe, dinginnya malam hari itu pada musim kemarau di Gunung Bromo sangatlah menggigit kulit sampai jaket saja tembus sampai ke dalam kulit.

Ratusan orang pun sudah mulai berkumpul di puncak pananjakan Gunung. Banyak penjual hidangan hangat di sana seperti jagung bakar, wedang jahe, bubur kacang, tahu goreng, bakwan,tempe dan dll. Bagi yang mau sholat jangan khawatir, disini ada sebuah Masjid dan sebuah Gardu yang digunakan sebagai tempat Ibadah. Tapi air wudhunya itu loh !! hehe, sangat dingin sekali !!!!

Sunrise Gunung Bromo

pixabay.com

 

Jam setengah empat dinihari remang-remang fajar mulai terlihat dari puncak Pananjakan Gunung Bromo tersebut. Inilah awal sunrise yang ditunggu-tunggu oleh para pendaki. Ratusan orang pun sudah siap-siap dengan kameranya masing-masing. Benarlah, di ufuk timur langit mulai memerah, pertanda matahari akan terbit nya fajar pada waktu itu.

Di tempat lain, di kawasan ujung jurang di puncak Pananjakan Bromo, puluhan orang berkumpul untuk bersiap-siap melihat sebuah pemandangan yang indah nanti. Ketika matahari semakin memperlihatkan sinarnya sesuatu yang terselubung gelap di seberang jurang perlahan-lahan mulai terlihat. Dan akhirnya tampaklah pemandangan yang begitu indah, Masya Allah.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *