Cerita Awal Masuk Pesantren

 

Sebagai pengingat-ingat bagi saya saja di suatu saat sudah tua. Cerita yang akan saya ceritakan merujuk pada pengalaman saya pas lagi di pesantren di tangerang. Pada bagian pertama ini saya akan sedikit menceritakan awal pertama masuk pesantren. Saya hanya tiga tahun mengalami pendidikan pesantren di tangerang.

Masa yang amat singkat namun sangat  membekas di dalam hati saya. Tiga tahu yang sangat membahagiakan dan sangat bermanfaat sekali. Begitu banyak sekali pelajaran dan pengalaman hidup yang saya rasakan dulu di pesantren.

Menjadi santri ialah kenangan yang sangat membekas sekali di hati saya. Meskipun hanya 3 tahun di lingkungan pesantren, mengingat masa-masa yang sangat menyenangkan tersebut. Bergabung menjadi santri di pesantren al quraniyyah, pondok pesantren tangerangpondok aren, pondok yang sanbat berkah dan begitu luar biasa.

Masuk ke lingkungan pesantren merupakan sesuatu yang membahagiakan bagi saya. Siapapun yang pernah merasakan menjadi santri pasti pernah mengalami hal-hal tersebut. Kehidupan pesantren sangatlah berbeda jauh dengan kehidupan di luar atau di rumah. Waktu al qur’an  tiga kali ( dari setelah shalat subuh, magrib dan isya).

Keinginan Kuat

Keinginan kuat saya untuk masuk pesantren baru saya rasakan ketika berada di kelas tiga smp. Saya juga tak pernah tahu kenapa saya ingin masuk ke pesantren. Saya cuma punya gambaran yang sangat singkat tentang mengenai dunia pesantren dari saudara yang sejak lulus smp juga sudah masuk pesantren. Selain itu  saya tak ada gambaran lagi mengenai kehidupan di lingkungan pesantren.

Ketika kawan-kawan smp saya pada bercerita tentang sekolah-sekolah unggulan yang menjadi target untuk setelah lulus mereka, saya hanya cuma mendengarkan cerita-cerita mereka saja. Saya hanya mengatakan ingin masuk pesantren dan belum tahu di mana pesantren yang akan saya masuki tersebut. Ketika kelas 3 smp, keingintahuan saya tentang pesantrenyang bertujuan untuk belajar agama semakin kuat. Entah kenap saya juga enggga tau.

Saya mulai rajin membeli dvd-dvd mengenai pesantren. Seingat saya yang membuat saya begitu tertarik untuk membli dvd-dvd itu adalah saudara saya, om kasyono, yang sudah dahulu memasukan anak nya ke pesantren terlebih dahulu.

Dari berlangganan dvd-dvd tentang pesantren  tersebut saya lanjutkan sampai ke pesantren. Saya sangat nyakin 100% bahwa apa yang disampaikan di dalam dvd_dvd tersebut sangatlan  bagus dan memotivasi saya hingga masuk ke pesantren.

Masuk ke pesantren membuat pikiran saya berubah menjadi lebih dewasa dan mandiri. Bahwa islam adalah ajaran penuh kasih dan kemandirian. Apalagi pimpinan pondok pesanten ketika itu Muhammad sobron zayyyan MA  merupakan tokoh masyarakat yang sangat di kagumi oleh masyarakat.

Ketika saya memutuskan untuk masuk ke pesantren, kedua orang tua saya merasa sangat keberatan sekali masa itu. Berkali-kali ibu menanyakan keseriusan tekad saya untuk ke pesantren. Melihat saya yang sangat kekeh, akhirnya kedua orang tua saya pun mulai bertanya-tanya ke beberapa tetangga dan saudara yang anaknya sudah lama di pesantren.

Entah mengapa ibu bertemu dengan tenangga yang mengatakan ada salah satu orang yang anaknya di pesantren. Saya kemudian memanggilnya Bang ibad di pesantren. Mulailah orang tua saya berkomunikasi dan ngobrol mengenai pesantren yang saya masuki tersebut (Alquraniyyah).

Takdir

Alquraniyyah sepertinya adalah sebuah takdir yang harus saya jalani. Kata ibu saya, ia pernah bermimpi didatangi oleh seseorang dan ibu saya diberi Al Quran terjemah bahasa jawa. Dan pada akhirnya itu dianggap pertanda bahwa saya harus masuk ke pesantren (dapat wangsit) Hehehe. Ya saya siap di mana saja. Yang penting saya bisa masuk mesantren.

Saya cuma mau Mengaji dan belajar di pesantren. Salah satu cita-cita saya ketika di pesantren adalah bisa menjadi ustad yang bisa ngajar ngaji. Dan alhamdulillah itu ga kesampean sampai sekarang hehehe… Pada akhirnya sekarang yaa Cuma ngaji sendiri aja klo di rumah.

Hafalan-hafalan zaman pesantren dulu sudah hilang.  Duh, berbeda sama alumni-alumni dan ustadz-ustadz yang di pesantren, yang jago baca kitab kuning, jago berbahasa arab, saya mah apa atuh. Kalau dibandingkan santri yang baru ngaji di tingkat pertama kualitas hapalan saya jauh banget. Nyesel juga sih. Kenapa ngajinya dulu ga bener-bener. Ga lama-lama di pesantren. Ilmunya sepotong-sepotong. blom bisa bahasa arab. Tapi ya sudahlah.

Dulu ke Tangerang tidak segampang sekarang. Belum ada kendaraanheheh. Sehingga kalau ke Tangerang harus nebeng sama temen. Karena tak punya kendaraan pribadi, pertama kali survei ke pesantren, sekaligus daftar di sana, saya dan bapak memilih naik grab untuk pergi kesana. grab pun tersebut masih sangat eksis sampai hari ini.

Ketika diantar sama bapak ke pesantren pun saya selalu naik grab. Bapak, ibu mengantar. Naik dari jakarta. Hanya membawa satu tas saya diantar oleh ke dua orang tua saya. Senang bercampur dengan  tegang. Senang karena target masuk pesantren terkabul. Tegang karena sebentar lagi saya berpisah jauh sementara dengan kedua orang tua dan adik. Apalagi saya orangnya suka kangen sama adik” saya yang masih kecil dan imut hehe..

Saya juga sangat jarang ke mana-mana atau keluar rumah atau nongkrong  kecuali menginap atau maen ke rumah mbah atau saudara-saudara saya saja. Orang yang cuma hobi ngendep di rumah di waktu libur. Maklum kurang gaul hehehe.

Suasana Di Pesantren

Sampai di pesantren suasana masih sepi dan hening. Bapak, ibu, pun Cuma nemenin saya sampai sore saja di pesantren karna adanya kerjaan di rumah yang harus mereka kerjakan. Besoknya baru ada satu orang kenalan yang saya temui.

Orang yang kemudian, akan menjadi salah satu sahabat terbaik saya sampai nanti. Saya pikir dia anak mahasiswa. Badannya lebih tinggi dan besar dari saya dan gaya bicaranya sangat dewasa dan besar suaranya.

Bisa ngobrol sama bapak dan ibu dengan bahasa jawa yang sangat halus dan sopan.  Eh ternyata dia sama-sama anak kelas satu SMA hehe. Bedanya dia Cuma agak besar saja badan nya dari saya hehe.. sedangkan saya badanya lebig kecil di bandingkan dia.

Gaulnya, teman saya ini berasal dari jawa juga loh. Ternyata ia sudah tiga tahun nyantri di di pesantren, karna dia dari SMP sudah nyantri disini. Pantas saja ia begitu mandiri sekali dan lebih agak dewasa.

Sorenya Bapak,dan ibu saya pun sudah pulang ke rumah untuk melanjutkan pekerjaan mereka, Saya pun berusaha untuk tidak menangis. Padahal mah aslinya pengen nangis heheh. Tapi malu aja sama temen yang ada di samping hehe, masa laki-laki nangis toh.

Dan dimulailah petualangan baru hidup saya di lingkungan pesantren. Yang akan saya coba sambung dicerita-cerita selanjutnya. Semoga bisa istiqomah (konsisten) menceritakan cerita-cerita ini. Yang semoga, suatu saat bisa dibaca oleh anak saya di masa yang akan datang.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *